Apakah Program Eco-Drainase WALHI Mampu Solusi Banjir di Sambas?

Ancaman banjir luapan air sungai dan genangan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, memerlukan pendekatan penanganan yang lebih alami dan berkesinambungan. Penerapan sistem eco-drainase hadir sebagai solusi inovatif untuk menggantikan saluran drainase beton konvensional yang kerap kali justru mempercepat aliran air ke sungai tanpa sempat meresap ke dalam tanah. Program penerapan drainase ramah lingkungan ini dikawal oleh WALHI Sukabumi untuk ekosistem sebagai bentuk adaptasi menghadapi perubahan iklim yang memicu curah hujan ekstrem.

Prinsip dasar eco-drainase adalah mengelola air hujan dengan cara menampung, meresapkan, dan mengalirkan air secara perlahan ke dalam lapisan tanah. Penggunaan sumur resapan, biopori, serta parit bervegetasi mampu meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah secara signifikan di sekitar pemukiman warga. Dengan meningkatnya volume air yang teresap ke dalam bumi, beban aliran air permukaan (run-off) yang menuju ke badan sungai dapat dikurangi secara dramatis.

Langkah ini tidak hanya efektif dalam mencegah timbulnya genangan air di kawasan permukiman, tetapi juga berfungsi menjaga ketersediaan cadangan air tanah saat musim kemarau tiba. Air hujan yang terfilter secara alami oleh perakaran tanaman dan lapisan tanah akan menjadi sumber air bersih yang sangat berguna bagi kebutuhan harian masyarakat. Sistem ini memberikan manfaat ganda bagi perlindungan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga.

Penyebaran wawasan seputar teknologi konservasi air dan penerapan sistem drainase ramah lingkungan terus digalakkan secara intensif. Pembaruan panduan teknis dan berita kegiatan advokasi ekologi dipublikasikan melalui portal WALHI Tasikmalaya untuk bencana bagi publik. Edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan saluran air dari sampah juga menjadi kunci keberhasilan penerapan eco-drainase di lapangan.

Keterlibatan aktif warga desa dalam membangun dan merawat sarana resapan air mandiri merupakan kunci utama keberlanjutan program ini. Gotong royong membersihkan parit alami dan menanam vegetasi penyerap air di sekitar pemukiman menjadi kebiasaan baru yang positif. Kesadaran kolektif untuk mengelola air secara bijak mampu memperkuat ketahanan komunitas lokal saat menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.

Penerapan konsep eco-drainase di Sambas membuktikan bahwa solusi berbasis alam (nature-based solutions) sangat ampuh dalam meredam risiko bencana banjir. Gerakan penataan ruang yang ramah lingkungan dan berkeadilan ini disuarakan oleh WALHI Surakarta untuk kelestarian demi menciptakan kawasan pemukiman yang aman, hijau, dan bebas bencana. Pengelolaan air yang bijak hari ini adalah investasi keselamatan bagi generasi mendatang.

Posted by

Web Developer & Computer Science Teacher